Al-Habib M. Luthfi didaulat untuk mengisi perayaan Cap Go Meh di Klenteng yang berlokasi di Jl. Salak, Kota Pekalongan. Dalam ceramahnya didepan ratusan warga Tionghoa beliau menyampaikan pentingnya membina kerukunan antar umat beragama, jangan sampai perbedaan menjadi sebab terjadinya perpecahan. Al-Habib Luthfi juga mengatakan bahwa setiap warga keturunan, baik Arab, Cina, belanda atau bangsa lainnya, jika dilahirkan di bumi pertiwi ini harus menanamkan kecintaan pada republik ini. Bangsa boleh-boleh saja berbeda-beda, tapi Negara kita adalah Negara kesatuan NKRI. Demikian pesan kerukunan yang sering disampaikan oleh Habib yang dikenal toleran itu.

Pukul 13.00 Al-Habib Luthfi membuka pawai barongsai. Jl. Sasak, perempatan POLSEK hingga perempatan Alun-alun dipadati oleh masyawarakat. Al-Habib Luthfi mempunyai perhatian yang besar bagi terciptanya kerukunan antar umat beragama. Ketua Umum MUI Jateng itu tidak mau memberi kesempatan tersemainya radikalisme dan anarkisme baik dengan motif agama maupun ras. Tidak Heran jika rumahnya yang bertempat di Jl. Dr. Wahidin, Kota Pekalongan bukan hanya dikunjungi oleh umat muslim saja, tapi juga dari semua agama dan para penganut keyakinan atau kebatinan.

Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Imlek bagi komunitas kaum migran Tionghoa yang tinggal di luar Cina. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama. Saat itu juga merupakan bulan penuh pertama dalam Tahun Baru tersebut.

Perayaan ini dirayakan dengan jamuan besar dan berbagai kegiatan. Di Taiwan ia dirayakan sebagai Festival Lampion. Di Asia Tenggara ia dikenal sebagai hari Valentine Tionghoa, masa ketika wanita-wanita yang belum menikah berkumpul bersama dan melemparkan jeruk ke dalam laut – suatu adat yang berasal dari Penang, Malaysia.